Bogor, Jurnal Bogor
Secara medik, hernia merupakan sebutan bagi usus yang memasuki area organ tubuh manusia. Tidak hanya di kantung zakar, di seluruh organ manusia yang dirasupi usus, disebut hernia.
Meski begitu, banyak warga yang memahami penyakit hernia merupakan penyakit yang disebabkan oleh masuknya usus ke dalam buah zakar. Hal itu tidak salah, namun, terdapat beberapa macam hernia yang patut diketahui seperti umbilical, femoral dan diafragma.
Secara sederhana, usus harusnya berada pada tempatnya, namun ketika terjadi pergesekan akibat genetik, pekerjaan yang berat, kurang istirahat atau usia yang semakin renta, mempengaruhi fungsi usus dan organ tubuh manusia.
Termasuk hernia inguinal (turun berok). Masyarakat yang menyatakan bahwa setiap kasus hernia harus dioperasi adalah tidak benar. Kasus turun berok baru dioperasi. Kalau jaringannya masih bisa dimasukkan kembali, maka yang perlu dilakukan adalah dengan menggunakan penyangga atau korset untuk mempertahankan isi usus yang telah direposisi.
Pada anak-anak atau bayi, reposisi spontan dapat terjadi karena cincin hernia pada anak lebih elastis. Tapi, kalau sudah tidak dapat direposisi, maka satu-satunya tindakan yang dilakukan adalah dengan operasi.
Turun berok terjadi akibat adanya lubang pada otot rongga perut, sehingga bagian lunak yang ada di dalamnya akan keluar dan membentuk suatu benjolan. Hal itu tidak perlu dikhawatirkan karena turun berok dapat segera diatasi melalui jalur operasi.
Dokter Heru Pranata, dari Rumah Sakit Salak mengatakan, bahwa cara termudah mendeteksi turun berok adalah dengan melakukan metode pendeteksian turun berok sendiri.
“Kalau pada bayi, bisa dilihat ketika dia menangis,” tutur Heru, kemudian menambahkan lagi bahwa ketika menangis, otot perut bayi akan kencang dan menegang. “Pada saat itulah dilakukan deteksi dengan melihat buah zakar bayi,” lanjut dia.
Namun, metode itu dilakukan bagi penderita hernia inguinal saja. Sedangkan penderita hernia lainnya seperti umbilical atau ada pembengkakan di pusar bayi, metode deteksinya cukup dengan melihat kondisi pusar bayi ketika mengejan atau menangis.
Akan tetapi, lanjutnya lagi, bagi orang dewasa yang menderita hernia inguinal atau turun berok, maka deteksinya sederhana. Bisa dilakukan di depan cermin atau dengan melihat sendiri kea rah buah zakar.
Caranya adalah pertama, dengan menutup kedua hidung sehingga tidak ada udara yang masuk. Selanjutnya letakkan pergelangan tangan di mulut. Fungsinya untuk membantu simulasi sulit bernafas, dan posisinya seperti sedang meniup balon.
“Seketika itu, usahakan meniup lengan dengan kencang dan kekuatan penuh,” papar Heru. Simulasi itu menyerupai tegangnya otot perut bayi yang sedang menangis. “Kalau sudah begitu, akan kelihatan apakah seseorang mengalami turun berok atau tidak,” jelasnya.
Sebab, tekanan itu bisa mendorong tekanan dalam perut, sehingga usus akan masuk ke dalam canalies. Sehingga buah zakar yang bermasalah, akan membesar. “Dan kalau sudah ada gejala seperti ini, segera konsultasikan kepada dokter,” tegasnya.
Ummu R. Siregar
Senin, 31 Maret 2008
Sunat Ubah Estetika dan Seksualitas
Bogor, Jurnal Bogor
Sunat sebenarnya telah dilakukan sejak zaman prasejarah. Hal ini bisa dilihat dari gambar-gambar di gua yang berasal dari Zaman Batu, juga di Makam Mesir Purba. Alasan tindakan tersebut masih belum ada penjelasannya.
Namun, banyak teori yang memperkirakan bahwa sunat merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau persembahan dari manusia kepada Yang Maha Kuasa. Fungsinya sebagai langkah menuju kedewasaan tanda kekalahan atau perbudakan serta upaya untuk mengubah estetika dan seksualitas.
Sunat pada laki-laki diwajibkan tidak hanya pada agama Islam, akan tetapi juga terjadi pada agama Yahudi. Dan hal itu juga dipraktikkan oleh mayoritas penduduk Korea Selatan, Amerika, dan Filipina.
Sunat pada bayi telah didiskusikan beberapa dekade terakhir. American Medical Association menyatakan bahwa perhimpunan kesehatan di Amerika Serikat, Australia dan Kanada tidak merekomendasikan sunat rutin non-therapeutic (bukan alasan agama, tidak ritual, dan tidak deperlukan secara medis) pada bayi laki-laki.
Menurut literatur AMA pada 1999, orangtua di AS memilih untuk melakukan sunat pada anaknya, terutama disebabkan alasan sosial atau budaya, dibandingkan karena alasan kesehatan.
Akan tetapi, survei pada 2001 menunjukkan bahwa 23,5 persen orangtua melakukannya dengan alasan kesehatan. Para pendukung integritas genital mengecam semua tindakan sunat pada bayi, karena menurut mereka, itu adalah bentuk mutilasi genital pria yang dapat disamakan dengan sunat pada wanita yang dilarang di AS.
Beberapa ahli berargumen bahwa sunat bermanfaat bagi kesehatan. Tindakan itu diperlukan untuk mengobati pendarahan kronis pada penis, dan kanker penis. Beberapa dokter menyarankan sunat untuk mengobati phimosis, sedangkan lainnya menyarankan metode pengobatan efektif lainnya untuk kondisi ini.
Ummu R. Siregar/*
Sunat sebenarnya telah dilakukan sejak zaman prasejarah. Hal ini bisa dilihat dari gambar-gambar di gua yang berasal dari Zaman Batu, juga di Makam Mesir Purba. Alasan tindakan tersebut masih belum ada penjelasannya.
Namun, banyak teori yang memperkirakan bahwa sunat merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau persembahan dari manusia kepada Yang Maha Kuasa. Fungsinya sebagai langkah menuju kedewasaan tanda kekalahan atau perbudakan serta upaya untuk mengubah estetika dan seksualitas.
Sunat pada laki-laki diwajibkan tidak hanya pada agama Islam, akan tetapi juga terjadi pada agama Yahudi. Dan hal itu juga dipraktikkan oleh mayoritas penduduk Korea Selatan, Amerika, dan Filipina.
Sunat pada bayi telah didiskusikan beberapa dekade terakhir. American Medical Association menyatakan bahwa perhimpunan kesehatan di Amerika Serikat, Australia dan Kanada tidak merekomendasikan sunat rutin non-therapeutic (bukan alasan agama, tidak ritual, dan tidak deperlukan secara medis) pada bayi laki-laki.
Menurut literatur AMA pada 1999, orangtua di AS memilih untuk melakukan sunat pada anaknya, terutama disebabkan alasan sosial atau budaya, dibandingkan karena alasan kesehatan.
Akan tetapi, survei pada 2001 menunjukkan bahwa 23,5 persen orangtua melakukannya dengan alasan kesehatan. Para pendukung integritas genital mengecam semua tindakan sunat pada bayi, karena menurut mereka, itu adalah bentuk mutilasi genital pria yang dapat disamakan dengan sunat pada wanita yang dilarang di AS.
Beberapa ahli berargumen bahwa sunat bermanfaat bagi kesehatan. Tindakan itu diperlukan untuk mengobati pendarahan kronis pada penis, dan kanker penis. Beberapa dokter menyarankan sunat untuk mengobati phimosis, sedangkan lainnya menyarankan metode pengobatan efektif lainnya untuk kondisi ini.
Ummu R. Siregar/*
Cegah Mata Minus Sejak Dini

Bogor, Jurnal Bogor
Mata minus atau plus merupakan penyakit yang bisa dicegah sejak dini. Penyakit serius seperti itu sebenarnya bisa dikurangi dengan mengonsumsi buah yang banyak dan mengandung vitamin A.
Menjaga sirkulasi cahaya ketika belajar dan mengurangi nonton televisi atau sekedar membatasi diri menggunakan komputer dalam waktu lama, juga bisa mengurangi terjadinya minus pada mata. Hal itu diungkapkan Galih Priayaji, finalis Mojang Jajaka (Moka) 2007 kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Jajaka yang gemar memainkan RPG, sejenis permainan petualangan di situs internet itu mengaku, setelah bepergian melewati jalan Kota Bogor, di matanya sering terasa sakit dan gatal. “Tiap habis berkendaraan, mataku berair,” kata Galih.
Gejala lain yang juga dialami pemain gitar ketika ‘unjuk kabisa’ pada salah satu sesi Moka di Botani Square itu, adalah perubahan warna sehinga mengakibatkan mata menjadi merah.
Rasanya perih dan gatal, lanjut dia, kemudian menambahkan bahwa karena perih itu, dia jadi ingin mengucek matanya. “Kalau sudah gatal, aku jadi pengen ngucek,” tuturnya. Meski begitu, pengagum Eko Patrio dan bercita-cita menjadi presenter televisi itu, selalu menetralisir mata dengan menetaskan Insto sebanyak dua tetes.
“Aku selalu menggunakan tetes mata Insto sehabis bepergian,” ungkapnya. Hal itu dilakukan pria yang enggan ke salon itu sebagai upaya mengurangi iritasi yang timbul setelah terkena debu jalanan.
Mahasiswa semester 7 Fakultas Teknik Elektro Telekomunikasi Sekolah Tinggi Teknik Telematika yang menyukai warna hitam dan putih ini, tiap bulannya terkena iritasi mata. Ditambah, kondisi mata Galih yang sensitif, maka defender futsal itu kerap kebingungan mencari solusi.
“Aku sudah coba konsumsi sayuran yang berwarna merah,” tukasnya. Namun usaha yang dilakukannya itu dinilai cukup maksimal. “Bagaimana tidak, aku harus lebih teliti ketika makan,” tukas pengagum perempuan lokal alias pribumi itu.
Ditambah lagi, lanjutnya, jomblo yang mengaku kisah cintanya rumit untuk dikisahkan itu harus mengonsumsi wortel dan tomat. “Kalau tomat, aku masih bisa telan, karena bisa dicampur dengan pemanis gula,” kisahnya.
Hanya saja, penikmat teh manis itu enggan makan wortel, sebab buah yang banyak disukai kelinci itu memiliki serat yang sulit diterima di tenggorokan putra pasangan Surya dan Sri Sumiati itu.
Setelah kualahan mengatasi gangguan dimatanya, Sulung dari tiga bersaudara itu akhirnya mengunjungi klinik Kimia Farma yang ada di Jalan Merdeka. Setelah diperiksa, dia menuturkan bahwa dokter kemudian memvonis dirinya kena minus.
“Kata dokter, bagian kanan mata saya, kena minus tiga perempat, sedangkan bagian kiri, silinder 1,” jelas Galih. “Pas tahu aku kena minus, aku langsung berpikir bagaimana cara menyembuhkan penyakitku ini,” tambahnya.
Pantas, lanjut pria yang suka kebut-kebutan dan kapok gara-gara salah satu temannya meninggal karena kecelakaan itu, selalu kesulitan ketika main badminton dan billiard. “Aku merasa buram ketika melihat bola, apalagi kalau sedang main billiard,” katanya, kemudian melanjutkan lagi, sudut meja billiard itu tampak miring dan tidak fokus.
Sejak saat itu, pria yang mengidamkan perempuan dewasa dan pengertian itu, rajin mengunjungi dokter mata tiap enam bulan. “Aku rutin kunjungi dokter mata, supaya minusku bisa berkurang,” tukasnya.
Selain mengeluhkan mata, alumnus PGRI 1 Bogor ini juga mengidap asma. Tapi ungtunglah sang nenek kerap mengobati cucu kesayangannya itu. “Nenek sering buatkan aku kalong bakar,” ujar Galih.
Kalong atau kelelawar itu, didapatinya dari penjual di pasar. Mantan kekasih Tri Asriana ini juga mengatakan bahwa rasa daging kalong tidak hambar. “Rasanya nikmat koq, seperti daging burung biasa,” tukasnya.
Dia lebih memilih mengobati asmanya dengan daging kalong ketimbang makan bekicot. “Tadinya nenek menyarankan aku makan bekicot supaya cepat sembuh, tapi aku jijik,” tandasnya.
Ketika ditanya tentang rencananya menjadi panitia Moka 2008, penyuka mata kuliah Humaniora itu, berkata bahwa dia ingin gabung dan kumpul bersama teman-temannya untuk menyukseskan Moka 2008, namun tidak memiliki waktu luang untuk mewujudkannya. “Aku pengen, tapi kayaknya banyak tugas kuliah yang menumpuk,” tandasnya.
Ummu R. Siregar
Mas Dodo Pehobi ‘Nyunat’
Bogor, Jurnal Bogor
Siapa bilang dr. Triwandha Elan, Mkes, kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, tak suka menyunat? Bisik-bisik tetangga dari kalangan dokter putri di sebuah Puskesmas Kota Bogor itupun akhirnya sampai juga ke pendengaran Mas Dodo, sapaan akrab Triwandha Elan, melalui konfirmasi yang dilakukan Jurnal Bogor.
Ternyata, Mas Dodo memang doyan alias hobi ‘menyunat’ (mengkhitan). Uniknya, mereka yang pernah dikhitan oleh Mas Dodo tidak hanya anak-anak bawah lima tahun (balita), melainkan juga orang dewasa yang segera mengakhiri masa lajangnya. Tak jarang juga, mereka yang dikhitan oleh Mas Dodo itu juga para mualaf yang belum sempat khitan. “Hobi saya memang ‘menyunat’ alias mengkhitan,” kata Mas Dodo kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Uniknya lagi, Mas Dodo justru malah senang dan bahagia bila ada orang yang datang kepadanya untuk minta disunat. “Setiap kali ada orang yang minta dikhitan, saya pasti senang,” tutur Mas Dodo, kemudian tersenyum.
Di balik senyumnya itu ternyata menyimpan beribu kenangan manis ketika Mas Dodo memulai profesi yang digelutinya sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada 1985.
Profesi itu di mata Mas Dodo sebetulnya biasa dijalani oleh dokter muda yang baru tamat kuliah. Tapi, barangkali tak biasa di mata awam yang selalu mengidentikkan profesi pengkhitan itu sebagai seorang tua berpeci, pokoknya nggak sekeren Mas Dodo ketika muda dulu, meski sekarang juga makin keren. “Semua dokter pasti bisa melakukan khitan,” katanya, menimpali, kemudian melanjutkan bahwa dari dokter umum hingga dokter bedah pasti bisa melakukan penyunatan.
Sunat atau sirkumsisi (khitan dalam Bahasa Arab) adalah tindakan memotong sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Dalam Islam, sunat tidak hanya dilakukan pada laki-laki, tetapi juga pada perempuan.
Kalau sunat bagi laki-laki adalah memotong semua kulit yang menutupi ujung kemaluan, sedangkan bagi perempuan dengan memotong bagian kulit yang menonjol ke atas.
Ketika seorang laki-laki disunat, maka ujung (kulub) kemaluan yang tadinya tempat berhimpunnya kotoran dan kuman, dapat dibersihkan. Kalau dibuka kulubnya, kotoran yang tadinya lekat berwarna hitam tidak lagi nampak.
Mas Dodo mengaku sering menyunat warga Kota Bogor yang disunat berusia di atas lima tahun. “Meski begitu, banyak juga pria dewasa yang minta saya melakukan prosedur sunat kepada dirinya,” tukasnya.
Sunat atau sirkumsisi sudah menjadi budaya masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa setiap orang yang ingin menjaga alat kelaminnya, tak segan-segan melakukan penyunatan. “Di Amerika, warga sudah terbiasa melakukan sunat, dan ketika lahir, langsung disunat,” tambahnya.
Proses sunat itu mudah dan sederhana, tapi yang lama adalah menunggu masa penyembuhannya. Setiap orang yang disunat akan diberi obat penghilang rasa sakit. “Mereka juga diberi antibiotik supaya bisa sembuh dalam waktu lebih singkat,” tandasnya.
Ummu R. Siregar
Siapa bilang dr. Triwandha Elan, Mkes, kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, tak suka menyunat? Bisik-bisik tetangga dari kalangan dokter putri di sebuah Puskesmas Kota Bogor itupun akhirnya sampai juga ke pendengaran Mas Dodo, sapaan akrab Triwandha Elan, melalui konfirmasi yang dilakukan Jurnal Bogor.Ternyata, Mas Dodo memang doyan alias hobi ‘menyunat’ (mengkhitan). Uniknya, mereka yang pernah dikhitan oleh Mas Dodo tidak hanya anak-anak bawah lima tahun (balita), melainkan juga orang dewasa yang segera mengakhiri masa lajangnya. Tak jarang juga, mereka yang dikhitan oleh Mas Dodo itu juga para mualaf yang belum sempat khitan. “Hobi saya memang ‘menyunat’ alias mengkhitan,” kata Mas Dodo kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Uniknya lagi, Mas Dodo justru malah senang dan bahagia bila ada orang yang datang kepadanya untuk minta disunat. “Setiap kali ada orang yang minta dikhitan, saya pasti senang,” tutur Mas Dodo, kemudian tersenyum.
Di balik senyumnya itu ternyata menyimpan beribu kenangan manis ketika Mas Dodo memulai profesi yang digelutinya sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada 1985.
Profesi itu di mata Mas Dodo sebetulnya biasa dijalani oleh dokter muda yang baru tamat kuliah. Tapi, barangkali tak biasa di mata awam yang selalu mengidentikkan profesi pengkhitan itu sebagai seorang tua berpeci, pokoknya nggak sekeren Mas Dodo ketika muda dulu, meski sekarang juga makin keren. “Semua dokter pasti bisa melakukan khitan,” katanya, menimpali, kemudian melanjutkan bahwa dari dokter umum hingga dokter bedah pasti bisa melakukan penyunatan.
Sunat atau sirkumsisi (khitan dalam Bahasa Arab) adalah tindakan memotong sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Dalam Islam, sunat tidak hanya dilakukan pada laki-laki, tetapi juga pada perempuan.
Kalau sunat bagi laki-laki adalah memotong semua kulit yang menutupi ujung kemaluan, sedangkan bagi perempuan dengan memotong bagian kulit yang menonjol ke atas.
Ketika seorang laki-laki disunat, maka ujung (kulub) kemaluan yang tadinya tempat berhimpunnya kotoran dan kuman, dapat dibersihkan. Kalau dibuka kulubnya, kotoran yang tadinya lekat berwarna hitam tidak lagi nampak.
Mas Dodo mengaku sering menyunat warga Kota Bogor yang disunat berusia di atas lima tahun. “Meski begitu, banyak juga pria dewasa yang minta saya melakukan prosedur sunat kepada dirinya,” tukasnya.
Sunat atau sirkumsisi sudah menjadi budaya masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa setiap orang yang ingin menjaga alat kelaminnya, tak segan-segan melakukan penyunatan. “Di Amerika, warga sudah terbiasa melakukan sunat, dan ketika lahir, langsung disunat,” tambahnya.
Proses sunat itu mudah dan sederhana, tapi yang lama adalah menunggu masa penyembuhannya. Setiap orang yang disunat akan diberi obat penghilang rasa sakit. “Mereka juga diberi antibiotik supaya bisa sembuh dalam waktu lebih singkat,” tandasnya.
Ummu R. Siregar
Deteksi Organ Tubuh Via Mata
Bogor, Jurnal Bogor
Mata adalah jendela hati. Ungkapan ini yang cocok bagi Klinik Ijo Medika. Klinik Iridologi pertama di Kota Bogor itu memberikan metode terbaru dalam mendeteksi seluruh organ tubuh manusia melalui mata.
Inge Leanny, salah satu dokter di Klinik Ijo Medika, mendefinisikan metode pemeriksaan organ tubuh yang menggunakan alat Iridologi. Menurut dia, Iridologi merupakan analisa kesehatan melalui Iris Mata (pelangi mata) dengan cara melihat lingkaran hitam mata.
Menurut dia, lingkaran hitam yang ada di antara Sklera dan Pupil mata itu, memiliki 28.000 serabut syaraf yang tersambung dengan organ bagian dalam tubuh manusia. “Hanya lewat mata, orang bisa terdeteksi kena penyakit apa saja,” tukas Inge.
Di Kota Bogor, lanjut dia, penyakit yang umumnya terdeteksi adalah gangguan pencernaan, kolestreol dan stress. Meski begitu, penyakit lain seperti ginjal, paru-paru, indung telur dan saluran kencing, juga kerap terdeteksi.
“Rata-rata organ tubuh manusia terdiri dari dua bagian,” jelas Inge. Hanya saja, lanjutnya lagi, organ tubuh itu memiliki fungsi saling mendukung satu sama lain. Sehingga ketika mengalami gangguan atau cacat sedikit saja, efeknya bisa sampai ke organ lain.
“Itulah alasan mengapa pengambilan gambar Iris Mata, harus dilakukan pada kedua mata pasien,” paparnya. Mata yang akan dideteksi itu tidak harus melewati tahapan atau perawatan tertentu. “Cukup datang, duduk dan langsung difoto saja,” tukasnya.
Mekanisme pengambilan gambar iris mata itu, lanjut Inge, tidak membutuhkan waktu lama. Pasien hanya butuh beberapa detik untuk diam sejenak, kemudian sebuah alat mirip mikroskop akan didekatkan ke mata, dan seketika itu pengambilan gambarpun dilakukan.
“Pasien tidak merasa sakit atau nyeri,”papar Inge. Hanya saja, lanjut dia, sedikit kaget karena ada cahaya tepat mengenai mata. “Bunyinya klikk,” tutur Inge. Sedangkan rasa ngilu dan panas yang kerap ditakutkan kebanyakan orang dari penggunaan alat ini, sama sekali tidak terasa.
Setelah diambil gambarnya, lanjut dia, komputer akan memproses hasil gambar dan mentransfernya ke monitor. Beberapa detik kemudian, muncul Iris Mata sang pasien, dan dokter Oha Muljono Mlr akan menjelaskan perihal gangguan yang ada di dalam tubuh pasien.
Fungsi dari pemeriksaan ini, adalah untuk medeteksi adanya penyakit di organ manusia, sejak dini. “Kalau sudah terdeteksi, titik penyakitnya bisa di minimalisir,” papar Inge. Sedangkan, lanjut dia, bila penyakitnya sudah memasuki tahap yang mencemaskan, bisa dilakukan penyembuhan.
Umumnya, dokter akan memberikan solusi seputar gaya hidup dan nutrisi yang layak dikonsumsi. “Yang jelas, metode pemeriksaan dan penyembuhan penyakit di sini, aman bagi tubuh manusia,” tandasnya.
Selain membuka layanan pemeriksaan Iridologi, klinik ini juga menyediakan terapi akupuntur. Terapi itu tidak hanya diberlakukan bagi penderita stoke saja, melainkan juga penderita minus.
Inge menuturkan bahwa terapi akupuntur itu bisa mengurangi minus dan plus mata. Rasa sakit yang ditimbulkan seperti digigit semut, sehingga, menurutnya, pasien tidak usah kuatir tentang nyeri itu. “Lama terapi adalah 15 hingga 20 menit,” ungkapnya, kemudian menambahkan bahwa intensitas terapi cukup dua sampai tiga kali dalam seminggu.
Ummu R. Siregar
Mata adalah jendela hati. Ungkapan ini yang cocok bagi Klinik Ijo Medika. Klinik Iridologi pertama di Kota Bogor itu memberikan metode terbaru dalam mendeteksi seluruh organ tubuh manusia melalui mata.
Inge Leanny, salah satu dokter di Klinik Ijo Medika, mendefinisikan metode pemeriksaan organ tubuh yang menggunakan alat Iridologi. Menurut dia, Iridologi merupakan analisa kesehatan melalui Iris Mata (pelangi mata) dengan cara melihat lingkaran hitam mata.
Menurut dia, lingkaran hitam yang ada di antara Sklera dan Pupil mata itu, memiliki 28.000 serabut syaraf yang tersambung dengan organ bagian dalam tubuh manusia. “Hanya lewat mata, orang bisa terdeteksi kena penyakit apa saja,” tukas Inge.
Di Kota Bogor, lanjut dia, penyakit yang umumnya terdeteksi adalah gangguan pencernaan, kolestreol dan stress. Meski begitu, penyakit lain seperti ginjal, paru-paru, indung telur dan saluran kencing, juga kerap terdeteksi.
“Rata-rata organ tubuh manusia terdiri dari dua bagian,” jelas Inge. Hanya saja, lanjutnya lagi, organ tubuh itu memiliki fungsi saling mendukung satu sama lain. Sehingga ketika mengalami gangguan atau cacat sedikit saja, efeknya bisa sampai ke organ lain.
“Itulah alasan mengapa pengambilan gambar Iris Mata, harus dilakukan pada kedua mata pasien,” paparnya. Mata yang akan dideteksi itu tidak harus melewati tahapan atau perawatan tertentu. “Cukup datang, duduk dan langsung difoto saja,” tukasnya.
Mekanisme pengambilan gambar iris mata itu, lanjut Inge, tidak membutuhkan waktu lama. Pasien hanya butuh beberapa detik untuk diam sejenak, kemudian sebuah alat mirip mikroskop akan didekatkan ke mata, dan seketika itu pengambilan gambarpun dilakukan.
“Pasien tidak merasa sakit atau nyeri,”papar Inge. Hanya saja, lanjut dia, sedikit kaget karena ada cahaya tepat mengenai mata. “Bunyinya klikk,” tutur Inge. Sedangkan rasa ngilu dan panas yang kerap ditakutkan kebanyakan orang dari penggunaan alat ini, sama sekali tidak terasa.
Setelah diambil gambarnya, lanjut dia, komputer akan memproses hasil gambar dan mentransfernya ke monitor. Beberapa detik kemudian, muncul Iris Mata sang pasien, dan dokter Oha Muljono Mlr akan menjelaskan perihal gangguan yang ada di dalam tubuh pasien.
Fungsi dari pemeriksaan ini, adalah untuk medeteksi adanya penyakit di organ manusia, sejak dini. “Kalau sudah terdeteksi, titik penyakitnya bisa di minimalisir,” papar Inge. Sedangkan, lanjut dia, bila penyakitnya sudah memasuki tahap yang mencemaskan, bisa dilakukan penyembuhan.
Umumnya, dokter akan memberikan solusi seputar gaya hidup dan nutrisi yang layak dikonsumsi. “Yang jelas, metode pemeriksaan dan penyembuhan penyakit di sini, aman bagi tubuh manusia,” tandasnya.
Selain membuka layanan pemeriksaan Iridologi, klinik ini juga menyediakan terapi akupuntur. Terapi itu tidak hanya diberlakukan bagi penderita stoke saja, melainkan juga penderita minus.
Inge menuturkan bahwa terapi akupuntur itu bisa mengurangi minus dan plus mata. Rasa sakit yang ditimbulkan seperti digigit semut, sehingga, menurutnya, pasien tidak usah kuatir tentang nyeri itu. “Lama terapi adalah 15 hingga 20 menit,” ungkapnya, kemudian menambahkan bahwa intensitas terapi cukup dua sampai tiga kali dalam seminggu.
Ummu R. Siregar
Langganan:
Postingan (Atom)