Senin, 31 Maret 2008

Mas Dodo Pehobi ‘Nyunat’

Bogor, Jurnal Bogor

Siapa bilang dr. Triwandha Elan, Mkes, kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, tak suka menyunat? Bisik-bisik tetangga dari kalangan dokter putri di sebuah Puskesmas Kota Bogor itupun akhirnya sampai juga ke pendengaran Mas Dodo, sapaan akrab Triwandha Elan, melalui konfirmasi yang dilakukan Jurnal Bogor.

Ternyata, Mas Dodo memang doyan alias hobi ‘menyunat’ (mengkhitan). Uniknya, mereka yang pernah dikhitan oleh Mas Dodo tidak hanya anak-anak bawah lima tahun (balita), melainkan juga orang dewasa yang segera mengakhiri masa lajangnya. Tak jarang juga, mereka yang dikhitan oleh Mas Dodo itu juga para mualaf yang belum sempat khitan. “Hobi saya memang ‘menyunat’ alias mengkhitan,” kata Mas Dodo kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Uniknya lagi, Mas Dodo justru malah senang dan bahagia bila ada orang yang datang kepadanya untuk minta disunat. “Setiap kali ada orang yang minta dikhitan, saya pasti senang,” tutur Mas Dodo, kemudian tersenyum.

Di balik senyumnya itu ternyata menyimpan beribu kenangan manis ketika Mas Dodo memulai profesi yang digelutinya sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada 1985.

Profesi itu di mata Mas Dodo sebetulnya biasa dijalani oleh dokter muda yang baru tamat kuliah. Tapi, barangkali tak biasa di mata awam yang selalu mengidentikkan profesi pengkhitan itu sebagai seorang tua berpeci, pokoknya nggak sekeren Mas Dodo ketika muda dulu, meski sekarang juga makin keren. “Semua dokter pasti bisa melakukan khitan,” katanya, menimpali, kemudian melanjutkan bahwa dari dokter umum hingga dokter bedah pasti bisa melakukan penyunatan.

Sunat atau sirkumsisi (khitan dalam Bahasa Arab) adalah tindakan memotong sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Dalam Islam, sunat tidak hanya dilakukan pada laki-laki, tetapi juga pada perempuan.

Kalau sunat bagi laki-laki adalah memotong semua kulit yang menutupi ujung kemaluan, sedangkan bagi perempuan dengan memotong bagian kulit yang menonjol ke atas.
Ketika seorang laki-laki disunat, maka ujung (kulub) kemaluan yang tadinya tempat berhimpunnya kotoran dan kuman, dapat dibersihkan. Kalau dibuka kulubnya, kotoran yang tadinya lekat berwarna hitam tidak lagi nampak.

Mas Dodo mengaku sering menyunat warga Kota Bogor yang disunat berusia di atas lima tahun. “Meski begitu, banyak juga pria dewasa yang minta saya melakukan prosedur sunat kepada dirinya,” tukasnya.

Sunat atau sirkumsisi sudah menjadi budaya masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa setiap orang yang ingin menjaga alat kelaminnya, tak segan-segan melakukan penyunatan. “Di Amerika, warga sudah terbiasa melakukan sunat, dan ketika lahir, langsung disunat,” tambahnya.

Proses sunat itu mudah dan sederhana, tapi yang lama adalah menunggu masa penyembuhannya. Setiap orang yang disunat akan diberi obat penghilang rasa sakit. “Mereka juga diberi antibiotik supaya bisa sembuh dalam waktu lebih singkat,” tandasnya.

Ummu R. Siregar

Tidak ada komentar: