
Bogor, Jurnal Bogor
Mata minus atau plus merupakan penyakit yang bisa dicegah sejak dini. Penyakit serius seperti itu sebenarnya bisa dikurangi dengan mengonsumsi buah yang banyak dan mengandung vitamin A.
Menjaga sirkulasi cahaya ketika belajar dan mengurangi nonton televisi atau sekedar membatasi diri menggunakan komputer dalam waktu lama, juga bisa mengurangi terjadinya minus pada mata. Hal itu diungkapkan Galih Priayaji, finalis Mojang Jajaka (Moka) 2007 kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Jajaka yang gemar memainkan RPG, sejenis permainan petualangan di situs internet itu mengaku, setelah bepergian melewati jalan Kota Bogor, di matanya sering terasa sakit dan gatal. “Tiap habis berkendaraan, mataku berair,” kata Galih.
Gejala lain yang juga dialami pemain gitar ketika ‘unjuk kabisa’ pada salah satu sesi Moka di Botani Square itu, adalah perubahan warna sehinga mengakibatkan mata menjadi merah.
Rasanya perih dan gatal, lanjut dia, kemudian menambahkan bahwa karena perih itu, dia jadi ingin mengucek matanya. “Kalau sudah gatal, aku jadi pengen ngucek,” tuturnya. Meski begitu, pengagum Eko Patrio dan bercita-cita menjadi presenter televisi itu, selalu menetralisir mata dengan menetaskan Insto sebanyak dua tetes.
“Aku selalu menggunakan tetes mata Insto sehabis bepergian,” ungkapnya. Hal itu dilakukan pria yang enggan ke salon itu sebagai upaya mengurangi iritasi yang timbul setelah terkena debu jalanan.
Mahasiswa semester 7 Fakultas Teknik Elektro Telekomunikasi Sekolah Tinggi Teknik Telematika yang menyukai warna hitam dan putih ini, tiap bulannya terkena iritasi mata. Ditambah, kondisi mata Galih yang sensitif, maka defender futsal itu kerap kebingungan mencari solusi.
“Aku sudah coba konsumsi sayuran yang berwarna merah,” tukasnya. Namun usaha yang dilakukannya itu dinilai cukup maksimal. “Bagaimana tidak, aku harus lebih teliti ketika makan,” tukas pengagum perempuan lokal alias pribumi itu.
Ditambah lagi, lanjutnya, jomblo yang mengaku kisah cintanya rumit untuk dikisahkan itu harus mengonsumsi wortel dan tomat. “Kalau tomat, aku masih bisa telan, karena bisa dicampur dengan pemanis gula,” kisahnya.
Hanya saja, penikmat teh manis itu enggan makan wortel, sebab buah yang banyak disukai kelinci itu memiliki serat yang sulit diterima di tenggorokan putra pasangan Surya dan Sri Sumiati itu.
Setelah kualahan mengatasi gangguan dimatanya, Sulung dari tiga bersaudara itu akhirnya mengunjungi klinik Kimia Farma yang ada di Jalan Merdeka. Setelah diperiksa, dia menuturkan bahwa dokter kemudian memvonis dirinya kena minus.
“Kata dokter, bagian kanan mata saya, kena minus tiga perempat, sedangkan bagian kiri, silinder 1,” jelas Galih. “Pas tahu aku kena minus, aku langsung berpikir bagaimana cara menyembuhkan penyakitku ini,” tambahnya.
Pantas, lanjut pria yang suka kebut-kebutan dan kapok gara-gara salah satu temannya meninggal karena kecelakaan itu, selalu kesulitan ketika main badminton dan billiard. “Aku merasa buram ketika melihat bola, apalagi kalau sedang main billiard,” katanya, kemudian melanjutkan lagi, sudut meja billiard itu tampak miring dan tidak fokus.
Sejak saat itu, pria yang mengidamkan perempuan dewasa dan pengertian itu, rajin mengunjungi dokter mata tiap enam bulan. “Aku rutin kunjungi dokter mata, supaya minusku bisa berkurang,” tukasnya.
Selain mengeluhkan mata, alumnus PGRI 1 Bogor ini juga mengidap asma. Tapi ungtunglah sang nenek kerap mengobati cucu kesayangannya itu. “Nenek sering buatkan aku kalong bakar,” ujar Galih.
Kalong atau kelelawar itu, didapatinya dari penjual di pasar. Mantan kekasih Tri Asriana ini juga mengatakan bahwa rasa daging kalong tidak hambar. “Rasanya nikmat koq, seperti daging burung biasa,” tukasnya.
Dia lebih memilih mengobati asmanya dengan daging kalong ketimbang makan bekicot. “Tadinya nenek menyarankan aku makan bekicot supaya cepat sembuh, tapi aku jijik,” tandasnya.
Ketika ditanya tentang rencananya menjadi panitia Moka 2008, penyuka mata kuliah Humaniora itu, berkata bahwa dia ingin gabung dan kumpul bersama teman-temannya untuk menyukseskan Moka 2008, namun tidak memiliki waktu luang untuk mewujudkannya. “Aku pengen, tapi kayaknya banyak tugas kuliah yang menumpuk,” tandasnya.
Ummu R. Siregar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar